OPINI: Pahlawan Pemilu

Dr. Sakka Pati (Istimewa)

Pemilihan Umum (Pemilu) serentak yang digelar pada Tanggal 17 April 2019 telah berakhir, namun segala rangkaiannya masih berlangsung hingga saat ini.

Hal ini dilakukan berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 14/PUU-11/2013 tentang pemilu serentak, yang bertujuan untuk meminimalkan pembiayaan negara dalam pelaksanaan pemilu, meminimalisir politik biaya tinggi bagi peserta pemilu, serta politik uang yang melibatkan pemilih, penyalahgunaan kekuasaan atau mencegah politisasi birokrasi, dan merampingkan skema kerja pemerintah.

Pemilu serentak akan mempengaruhi komitmen penguatan partai politik dalam koalisi permanen untuk memperkuat basis kekuatan mereka di lembaga-lembaga negara yang tinggi sehingga dengan pemilu serentak diharapkan bisa memfasilitasi pembenahan Sistem Presidensial di Indonesia.

Penyelenggaraan Pemilu Serentak 2019 dinilai tidak sederhana bahkan cenderung rumit, kerumitan tersebut tampak dari waktu penyelenggaraan. Akibatnya, kejadian itu berdampak pada banyak hal.

Selain sangat berbahaya dari aspek rentan kecurangan, stamina pun bisa sangat terkuras, baik stamina para petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), saksi partai, serta aparat keamanan dan yang terlibat dalam pesta demokrasi itu.

Seperti yang sedang terjadi saat ini, sebanyak 12 orang petugas KPPS Jawa Barat telah gugur dalam tugasnya. Selain itu, dari jajaran Panwaslu juga sebanyak 14 orang telah meninggal dunia yang tersebar di 5 Provinsi 11 Kabupaten/kota sebagaimana disampaikan oleh Bawaslu.

Baca Juga :  Polisi Promoter Berantas Kriminalitas

Ada pula sebanyak 85 orang yang tersebar di 21 Provinsi 43 kabupaten/kota telah dirawat inap, sebanyak 137 tersebar di 20 Provinsi 52 kabupaten/kota rawat jalan, 15 orang mengalami kekerasan yang tersebar di 11 provinsi 14 kabupaten/kota, serta 74 orang mengalami kecelakaan yang tersebar di 20 provinsi 47 kabupaten/kota. Di Sul Sel ada 4 petugas KPPS yang meninggal dunia, dan tak sedikit yang jatuh sakit, bahkan2 orang anggota KPU Sul Sel pun harus dirawat di Rumah Sakit.

Bukan hanya itu, di kalangan TNI-Polri juga ada yang telah gugur dalam tugasnya untuk melakukan pengamanan terhadap penyelenggaraan Pemilu Serentak 2019 ini yaitu sebanyak 10 orang akibat kelelahan.

Hal ini membuat media sosial ramai khususnya twitter dengan tagar #PahlawanPemilu.

Pada pelaksanaan Pemilu Serentak 2019 ini, sebanyak 271.880 personel Polri dikerahkan untuk pengamanan pada hari pencoblosan, dan sebanyak 68.854 personel TNI disiagakan, serta terdapat 1,6 juta personel petugas Linmas yang ditugaskan untuk terus mengawal pelaksanaan pesta demokrasi bersejarah ini.

Baca Juga :  Radikalisme “Duri” dalam Demokrasi dan Pemilu

Namun yang perlu menjadi perhatian adalah masa tugas seluruh petugas pengamanan Pemilu Serentak 2019 tersebut bukan hanya pada hari pencoblosan, melainkan sejak awal hingga akhir dari rangkaian pesta demokrasi ini.

Mereka bertugas mulai dari penyebaran logistik, pengamanan di TPS hingga pengamanan pada proses penghitungan suara sampai penetapan presiden dan wakil presiden terpilih oleh KPU.

Tidak hanya itu, pasca penetapan pun mereka tetap harus waspada terhadap segala bentuk kemungkinan yang akan terjadi. Oleh sebab itu, apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya harus diberikan kepada para Pahlawan Pemilu ini.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan bahwa Pemilu Serentak 2019 merupakan pesta demokrasi terkompleks di dunia, karena adanya pemilihan anggota legislative dan pemilihan presiden dan wakil presiden secara bersaamaan.

Banyak kepentingan yang harus ditampung oleh penyelenggara, kenetralan yang harus terjaga, dan kepercayaan publik yang harus selalu dijaga menjadi sedikit dari banyaknya komplesitas yang ada dalam Pemilu serentak 2019 ini.

Baca Juga :  Soal Bupati Tator Rangkap Jabatan, Pengamat: Jeruk Makan Jeruk

Meski demikian, hingga hari ini Polri dan TNI telah melaksanaka tugasnya dengan baik. Meminimalisir segala bentu kecurangan, konflik di lapangan, rela berkorban tenaga dan waktu bahkan nyawa mereka untuk melaksanakan tugas yang diembannya.

Tentu saja, kinerja tersebut sekali lagi harus diapresiasi setinggi-tinggi.
Oleh sebab itu, setelah hari ini seluruh rakyat Indonesia harus kembali bersatu, menghilangkan kelompok-kelompok yang sempat terbentuk akibat pemilu, tidak ada lagi “cebong dan kampret” di antara kita, tidak ada dendam yang bersemayam di jiwa.

Kita adalah bangsa yang besar yang ber-Bhinneka Tungga Ika, saatnya kita kembali ke pelukan Ibu Pertiwi, dan merekatkan kembali persaudaraan sebagai bangsa yang merdeka.

Apalagi di momentum bulan Ramadhan mari kita sucikan hati dan pikiran bahwa pemilu adalah sarana demokrasi yang harus dijunjung tinggi dan dihargai oleh segenap bangsa Indonesia. Mari dengan kesabaran menunggu hasil pemilu sebagai wujud kedaulatan rakyat.

Dr. Sakka Pati, S.H. M.H (Dosen Fakultas Hukum Unhas)

Berbagi itu indah
  • 62
    Shares