Pemilu 2019 Jadi Ajang Memenjarakan Seseorang

Ilustrasi orang yang di penjara (int).

PedomanSulsel.com – Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 menyisakan sebuah kisah yang pilu. Pasalnya Pemilu 2019 ini menelan banyak korban jiwa sampai 500 jiwa lebih serta menjadi ajang memenjarak seseorang.

“Pemilu kali ini selain banyak menelan korban jiwa petugas KPPS, tapi juga pemilu yang paling banyak memenjarakan orang,” ujar Direktur Lingkar Madani, Ray Rangkuti dalam diskusi bertajuk “Kapok Pemilu Serentak” di kawasan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (11/5/2019).

Baca Juga :  Jelang Pemilu 2019, WBP Lapas Watampone Jalani Perekaman e-KTP

Dilansir dari Rmol.co, Ray mengaku heran dengan sikap dari aparat kepolisian yang terkesan gampang menggunakan pasal makar terhadap seseorang yang mengemukakan pendapat.

“Okelah kalau hoax itu dipenjara. Tapi kalau makar gimana? Kok dikit-dikit makar, dikit-dikit makar. Saya bukan membela si A atau si B, kita sebagai warga negara yang tinggal di negara demokrasi itu memiliki hak dan kesempatan yang seluas-luasnya untuk berbicara dan berpikir secara bebas,” bebernya.

Baca Juga :  Panwaslu Sabbang dan Sabbang Selatan Butuh 120 KPPS di Pemilu 2019

Menurut Ray, kebebasan berpendapat dan berekspresi dalam sebuah negara demokrasi sejatinya adalah hal mutlak yang harus dilindungi. Termasuk, melontarkan kirtik pedas kepada pemerintah bukanlah perbuatan makar.

“Orang kalau sudah berbicara di muka umum mengkritisi atau menuding lalu disebut makar. Lho bagaimana bisa begitu. Sekali lagi saya bukan membela pihak tertentu, saya cuma concern terhadap penggunaan pasal makar,” imbuhnya.

Baca Juga :  Bawaslu Lutra Gelar Sosialisasi Pengawasan Pemilu Partisipatif, Begini Tujuannya

“Apalagi, dengan adanya tim hukum pemantau tokoh. Lah ini bagaimana, nanti orang-orang tidak ada lagi yang berpidato karena sulit memilih kata-kata yang aman agar tidak dijebloskan ke penjara,” jelasnya.

Editor: Jusrianto

Berbagi itu indah