Tulisan Putri IAS: Terima Kasih Ya Allah Atas Kabar Pahit di 7 Mei 2014 Lalu

Foto kedekatan Haera Ilham bersama Ayahnya Ilham Arief Sirajuddin

Hari ini akhirnya datang lagi. Entah mengapa 7 Mei masih selalu menyimpan bekas dalam diri ini. Tulisan pertama ku di hari yang sama ini berhasil membuat banyak orang meneteskan air mata ketika kubacakan 5 tahun lalu (8 Mei 2014).

Tak tau apakah karena hari itu adalah hari perpisahan Ayah sebagai pemimpin kota Makassar atau justru karena kabar pahit yang menghampiri keluarga kami. Apapun itu, saya bersyukur karena tulisan ku dikenang & seringkali dirindukan.

Kemudian hari ini akhirnya saya kembali terpanggil untuk menulis lagi. Rasanya selalu ada panggilan setiap tanggal 7 Mei dari dalam diri untuk mengenang ‘hari itu’ dalam sebuah tulisan.

Beberapa hari belakangan, orang-orang di kota ini atau lebih sempit lagi di dalam keluarga kami sudah ramai membicarakan masa jabatan pimpinan kota Makassar yang akan berakhir beberapa hari lagi. Tapi berbeda dengan ku. Bukan pergantian walikota yang saya pikirkan, tetapi kejadian yang menamparku 5 tahun lalu yang justru teringat oleh benak ku.

Sedikit kilas balik.. Hari itu sama seperti bulan Ramadhan ini, kami sekeluarga berpuasa karena hari itu adalah hari terakhir masa jabatan Ayah. Kemudian muncul inisiatif untuk mengajak Ayah & Ibu untuk berbuka puasa & sholat maghrib bersama di rujab untuk yang terakhir kali nya sebagai tuan rumah.

Ternyata keinginan ku tidak bisa tercapai, bahkan belum sempat ku sampaikan. Sore itu tiba-tiba datang kabar pahit yang sebelumnya tidak pernah saya dengar sedikitpun tentang hal itu. Rasanya saya seperti jatuh dari sebuah gedung yang sangat tinggi. Kaget, hancur, sedih, dan masih banyak perasaan lain bercampur dalam diriku ketika mendengarnya.

Kala itu sempat terpikirkan untuk menabrakkan kendaraan yang ku kendarai saat itu. Diri ini berusaha menahan air mata untuk tidak jatuh karena mengingat sedang berpuasa, tetapi apa daya ternyata tetap tak tertahankan.

Saat itu juga saya buru-buru pulang ke rumah untuk bertemu Ayah & Ibu. Orang yang pertama ku temui ketika sampai di rumah langsung memeluk ku dengan sangat tulus disertai air mata haru karena tak tega melihat ku. Dia kemudian langsung mengarahkan ku menuju ke Ayah di dalam rumah.

Sayangnya, hari ini Dia sudah menjadikan dirinya seperti ‘rival’ keluarga kami. Entah apa alasannya. Tetapi bukan tentang Dia yang ingin saya ceritakan di sini. Singkat cerita; ketika akhirnya melihat Ayah, spontan diri ini langsung memeluk beliau.

Dalam pelukan itu, hanya 1 kalimat singkat yang beliau bisikkan padaku: “Ayah mu bukan pencuri, Nak.” Hari itu rasanya seperti salah satu titik terendah dalam hidup ku. Rasanya semua harapan dalam diriku hilang begitu saja. Diri ini sempat berpikir ini adalah akhir dari segalanya. Semalaman atau bahkan beberapa hari, diri ini masih terus meneteskan air mata. Sempat terpikir bahwa tak akan ada lagi senyuman yang hadir dalam diri ini.

Tetapi kemudian setelah 5 tahun berlalu, hari ini saya sadar bahwa ternyata ketakutan di hari itu terpatahkan. Tidak ada harapan yang hilang. Air mata itu berubah menjadi senyuman hangat dalam diri ku hari ini. Peristiwa itu ternyata bukan lah akhir dari segalanya bagi saya maupun keluarga kami, tetapi awal dari sebuah kisah baru. Sebuah kisah bersejarah dalam hidup kami.

Hari ini kami semua masih mampu berdiri dengan tegar, kami semua masih mampu berjuang, kami semua masih mampu berkarya, dan ternyata hari ini kami semua masih mampu tersenyum. Peristiwa itu justru menjadi kekuatan besar bagi kami.

Saya yakin kekuatan itu bisa hadir karena kami tak pernah lupa untuk bersyukur pada-Nya atas apapun yang menimpa kami. Kami selalu percaya bahwa setiap peristiwa yang terjadi adalah kehendak-Nya dan selalu ada hikmahnya.

Walaupun 5 tahun ini terasa sangat berat bagi kami sekeluarga, tapi rasanya 5 tahun ini pula adalah saat-saat terkuat kami. Banyak sekali pelajaran berharga yang kami dapatkan selama 5 tahun ini. Salah satu yang terpenting adalah tentang arti kebaikan. Bahwa tak peduli seberapa berat masalah yang menimpa kami, seberapa banyak pihak yang ingin menjatuhkan kami, seberapa banyak bisikan yang berusaha mempengaruhi orang banyak untuk melupakan kami, hati nurani manusia tak akan mampu melupakan kebaikan yang pernah diterimanya.

Berdasarkan pengalaman & pengamatanku, hanya 2 dari 10 orang yang menghujat kami terkait masalah ini, sisanya seakan tak peduli akan hal tersebut karena selalu mengingat kebaikan-kebaikan Ayah yang pernah mereka rasakan.

Saya semakin percaya dengan nasihat Ayah yang juga sudah saya sampaikan di atas panggung pisah sambut 5 tahun lalu, “Nak.. kita baik sama orang saja, belum tentu orang baik sama kita. Apalagi kalau tidak, Nak.”

Hari ini kalimat tersebut berhasil terbukti. Ada sebagian orang yang pernah mendapatkan begitu banyak kebaikan dari kami, namun Dia justru berbalik membalasnya dengan kejahatan hari ini. Tetapi tak apa, karena ada lebih banyak pihak yang tak akan pernah bisa melupakan kebaikan kami, terkhusus kebaikan Ayah & Ibu.

Dalam musibah ini, Allah semakin mengingatkan kami untuk tidak pernah berhenti berbuat baik walaupun keadaannya berat. Allah meminta kami untuk ikhlas, tidak pernah menyerah, dan tidak lupa untuk bersyukur atas segala sesuatu yang ditakdirkan-Nya, seberat apapun itu. Karena pasti akan ada hikmahnya, pasti ada selipan hadiah yang ingin diberikan-Nya. Seperti kutipan Ayah, “Dalam setiap kesabaran pasti akan datang kemenangan..”

Mungkin 5 tahun lalu dalam doa ku yang diiringi dengan air mata, saya bertanya pada Allah dengan perasaan marah bercampur kecewa: “mengapa Engkau tega memberikan cobaan seberat ini kepada kami yaa Allah?”; tetapi hari ini, dalam doa ku yang diiringi dengan senyuman & kesejukan dalam hati, saya justru ingin menyampaikan pada-Nya: “Terima kasih yaa Allah atas kabar pahit di 7 Mei 2014 lalu. Terima kasih atas kesempatan untuk merasakan pengalaman & pelajaran berharga ini yang engkau berikan sebagai bukti sayang-Mu pada kami. Terima kasih atas kebaikan-Mu yang tak ada habisnya pada kami sampai hari ini.”

Makassar, 7 Mei 2019
-Haera Ilham (Putri Ilham Arief Sirajuddin)-

Berbagi itu indah
  • 3K
    Shares